|
|
 |
 |
|
Friday, July 28, 2006
Kata-kataku.....Menguaplah!
Ternyata pepatah yang hampir tidak pernah aku anggap serius akhirnya terbukti juga.
DILEMA...
Itu yang terjadi denganku sekarang.
Beberapa minggu ini aku sedikit banyak mulai menyadari ketidak-akuratan pikiranku menyusun rencana. Dari sekian banyak hal yang sejak dulu aku rencanakan, sedikit dari meraka yang bisa aku realisasikan, itupun cuma hal-hal yang sifatnya sederhana saja.
Ada satu hal yang lumayan membuat otakku tidak berhenti memikirkannya. Ada satu hal yang lumayan membuat otakku tidak berhenti memikirkannya. Ada satu hal yang lumayan membuat otakku tidak berhenti memikirkannya. Ada satu hal yang lumayan membuat otakku tidak berhenti memikirkannya. Ada satu hal yang lumayan membuat otakku tidak berhenti memikirkannya. Ada satu hal yang lumayan membuat otakku tidak berhenti memikirkannya.
Dan aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Tetapi tetap saja aku tidak bisa mengatakannya. Tetap saja aku tidak bisa mengatakannya. Tetap saja aku tidak bisa mengatakannya. Tetap saja aku tidak bisa mengatakannya.
Karena keadaan yang terlihat didepan mata.
Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menghentikan kebahagiaan, termasuk juga pikiranku, hatiku, alam bawah sadarku, penjajaku, dan lain sebagainya-ku.
Aku berhenti karena kebahagiaan itu telah datang padanya.
Semoga jiwaku tetap bisa mengerti, dengan tidak mengurangi kebiasaanku yang abadi. Semoga jiwaku tetap bisa tidak berkata, dengan tidak mengurangi perasaanku yang abadi. Semoga jiwaku tetap bisa terus tersenyum, dengan tidak mengurangi kebahagiaanya yang abadi. Semoga jiwaku tetap bisa terus terjaga, dengan tidak membiarkannya mengetahui jawaban dari apa yang pernah aku kalimatkan dengan penuh rasa penghargaan yang setingginya terhadap eksistensinya yang luar biasa.
Kata-kataku........Menguaplah!
Posted at 1:40:58 am by jiwayangkosong
Permalink
Friday, July 08, 2005
....akhirnya sepenggal kata "kedewasaan" memakan korban lagi. Dan kali ini korbannya adalah salah satu dari keluarga kedua-ku yang tanpa tepi aku sayangi.
Sungguh terlalu sesak. Sakit sekali.
Hal yang luar biasa aku benci, terjadi didepan mataku sendiri!
Lagi....
Posted at 11:43:08 pm by jiwayangkosong
Permalink
Monday, May 09, 2005
Akhirnya terlewat tiba.
Apa yang selalu terlintas, telah terjadi ketika sedikit terang cahaya.
Aku akan terbebas, kembali lagi jadi tiada.
Reruntuhan luka, puing-puing lara, menyatu kedalamnya.
Telah binasa apa yang aku agungkan selama ini sebagai cinta. Yang selalu menerangiku pada saat malam beranjak terlalu gelap.
Diluar sana, dia menemukannya dalam diri manusia yang lebih merdeka, lebih bebas berkehendak dengan hati yang lebih terbuka.
Tapi tidak sia-sia.
Aku berterima kasih padanya karena sempat membuatku terlupa segala apa yang disebut dengan duka.
“Sudah selesai aurora...”
“...karena hari ini aku akan melihat terangmu disini untuk yang terakhir kali”.
Posted at 10:32:12 pm by jiwayangkosong
Permalink
Monday, April 25, 2005
Aku ingin sekali bisa memulainya dengan mudah. Untuk bisa mengatakannya, semua ide, harapan dan keinginan yang terus tertahan hati.
Kenapa begitu sulit?. Setiap hari (detik) aku terus berfikir, tapi tak ada satupun hal yang sanggup aku sampaikan. Mungkin hidupku kebuntuan, tak ada jalan. Siapapun pasti menyela tidak dewasa. Apa yang salah kedewasaan?. Kenapa setiap orang begitu mengaguminya? Begitu gencar mengagung-agungkannya?, menjadikannya tolak ukur sesuatu pertimbangan untuk mengambil keputusan demi dirinya sendiri.
Omong kosong!. Tidak ada yang lebih baik daripada membiarkannya tetap tidak terkekang. Karena dia bukan kriminal, bukan suatu dosa.
Kedewasaan adalah kebebasan untuk menjadi tidak dewasa.
Setiap orang takut dianggap kecil, remeh, freak, creep, tidak bermutu, murahan, kampungan atau apapun itu sebutannya. Setiap waktu mereka akan terus berusaha mencari jalan untuk selalu terlihat lebih dihadapan orang lain. Mereka saling unjuk dewasa. Beradu, berbalap, ber-omong-kosong ria. Kalau mau lihat, bola dunia jadi seperti panggung kontes kecantikan, atau lomba cerdas cermat, atau mungkin akan jadi semacam turnamen aktualisasi diri yang tidak pernah berakhir. Dan mereka senang. Mereka bangga akan hal itu, ketika mereka berhasil berdiri diatas panggung pemenang, membusung dada pamer medali emas yang sama sekali tidak ber-emas. Seketika itu juga mereka lupa, pada moyangnya, pada awal mula gagasannya untuk menjadi seorang manusia. Mereka tidak pernah sadar ada sesuatu yang terus lindap dibelakang mereka, berjingkat-jingkat perlahan menghapus ingatannya.
Kedewasaan itu sekedar permainan kata-kata. Sebuah konsep senam lidah yang terstrukturisasi dengan baik. Sesuai dengan kosa katanya, dia selalu akan mulai dengan A lalu berakhir dengan Z. Berurutan tanpa ada keinginan untuk menggubahnya jadi bahan lawakan. Iseng aja, lumayan kan bisa jadi obat bosan. Siapa tahu bisa jadi member baru paling mudanya srimulat atau menangin kembang API. Yang terakhir sepertinya, mungkin, bisa jadi pilihan yang lebih menguntungkan. 125 juta sudah pasti bukan guyonan kan?
Aku kehilangan makna saat ini. Aku benci jadi dewasa. Begitu munafik. Jika satu saja sudah cukup, kenapa aku harus susah payah bermuka dua?. Sebandingkah semuanya?, dengan apa yang setiap hari kita masukkan lewat mulut dan keluarkan lewat anus. Yang baik masuk dari atas dan yang buruk keluar dibawah.
Kenapa yang buruk harus selalu dibawah, selalu direndahkan?. Budak dibawah tuan, tai dibawah tanah, satu juta lebih aib dibawah rahasia. Bukankah belum tentu tidak ada yang baik didalam yang buruk?. Atau mungkin kita secara tidak sengaja berulang-ulang kali terdoktrin neraka; yang paling bawah adalah yang paling jahanam.
Karena yang buruk itu tidak dewasa, tidak bijaksana. Buruk itu adalah mereka yang dikuasai nafsu -sebuah motivasi yang berlainan bentuk dan besar pada setiap orang-. Dan mereka (orang-orang tersebut) tidak bisa melihatnya lebih dari itu. Mereka terhenti ditempatnya masing-masing, mem-pasrahi diri mereka sendiri dengan keluh-keluh lirih tak bernada yang saling bersahutan memenuhi ruang jingga kekal berjendela luka.
Kedewasaan itu anti nafsu. Anti motivasi minor yang memperbaru diri.
Kedewasaan 100% anti sosialisasi kekanakan yang kekanakan.
Posted at 12:08:31 pm by jiwayangkosong
Permalink
Tuesday, March 29, 2005
....adalah awal yang berangsur memudar
: dinantikan atau tidak, akan terus menjadi awal yang berangsur memudar
waktu tersamar
berputar....berputar....
tidak berhenti berlayar
Posted at 8:48:53 pm by jiwayangkosong
Permalink
|
|

SENJA
...adalah yang terakhir pada setiap warna hari.
Tapi, apakah dia akan terus selalu berakhir dengan indah?
|
|